150 Pimpinan Perguruan Tinggi Berkomitmen Membangun Budaya Mutu

150 Pimpinan Perguruan Tinggi Berkomitmen Membangun Budaya Mutu


Siaran Pers Kemenristekdikti
Nomor: 165/SP/ HM/BKKP/VIII/2019

Untuk meningkatkan komitmen para pimpinan perguruan tinggi terhadap penjaminan mutu (Quality Assurance) yang menjadi faktor penting suksesnya pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), Direktorat Penjaminan Mutu, Direktorat Jenderal, Pembelajaran, dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menyelenggarakan Seminar Budaya Mutu di Bali pada Senin (26/08/2019).

Pelaksanaan Seminar Budaya Mutu kali ini di Denpasar merupakan rangkaian kegiatan dalam peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional.

Seminar Budaya Mutu di Denpasar diikuti 150 pimpinan perguruan tinggi (rektor, ketua, direktur dan pimpinan badan penyelenggara perguruan tinggi) dari 90 perguruan tinggi dengan sebagian besar adalah perguruan tinggi di Wilayah LLDikti VIII (Bali, NTT, dan NTB) yang sedang mendapatkan Program Asuh menuju Program Studi Unggul (Program Asuh 2019) dan beberapa pimpinan perguruan tinggi dari wilayah lain.

Pimpinan perguruan tinggi yang sedang diasuh dalam Program Asuh 2019 menjadi target peserta karena keberhasilan pelaksanaan program dalam Program Asuh 2019 sangat tergantung pada komitmen dan dukungan dari pimpinannya.

Seminar dibuka oleh Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Prof. Dr. Ismunandar dan sambutan dari Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VIII, Prof. Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa.

Latar belakang penyelenggaraan Seminar Budaya Mutu ini dikarenakan pada saat ini masih banyak perguruan tinggi belum menerapkan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) untuk peningkatan mutu pendidikan tinggi menuju tumbuh dan berkembangnya budaya mutu (quality culture).

Mutu pendidikan tinggi di Indonesia saat ini masih kurang menggembirakan. Jika dilihat dari status akreditasi masih banyak perguruan tinggi maupun program studi terakreditasi C (25%), dan sebaliknya masih sedikit yang terakreditasi A (18%) atau B (57%).

Seminar Budaya Mutu yang diselenggarakan oleh Direktorat Penjaminan Mutu dilaksanakan dua kali setahun dan sudah memasuki tahun ke-3. Kegiatan ini berupa pemberian berbagai fasilitasi melalui program dan kegiatan peningkatan mutu pendidikan tinggi berupa sosialisasi, bimbingan teknis, lokakarya, dan pendampingan SPMI kepada perguruan tinggi, namun belum cukup banyak menjangkau pada level pimpinan. Karenanya perlu untuk melaksanakan seminar dengan tujuan membangun visi, penyamaan persepsi dan komitmen budaya mutu pendidikan tinggi kepada pimpinan perguruan tinggi.

Selain itu, komitmen pimpinan perguruan tinggi dalam membangun budaya mutu institusi perguruan tinggi menjadi langkah awal dalam penerapan SPMI. Sebab, budaya mutu pendidikan tinggi sendiri didefinisikan sebagai pola pikir, pola sikap dan pola perilaku berdasarkan standar pendidikan tinggi.

Sistem manajemen dalam SPMI juga menuntut adanya keterbukaan dan partisipasi menyeluruh dari pimpinan hingga staf di organisasi perguruan tinggi, karenanya pimpinan perguruan tinggi diharapkan dapat mengajak dan memberikan contoh secara nyata melalui sikap dan tindakan kepada seluruh jajaran dan staf di organisasi perguruan tinggi untuk bersama-sama membangun budaya mutu.

Hadir sebagai narasumber seminar adalah Direktur Penjaminan Mutu, Prof. Aris Junaidi, Ph.D. membawakan materi Kebijakan dan Program Direktorat Penjaminan Mutu; Anggota Tim Pengembang SPMI, Prof. Dr. Sadra Dharmawan membawakan materi Kebijakan Nasional SPMI Dikti dan SPMI; Rektor Udayana, Prof. Dr.dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S (K) membawakan materi Membangun Budaya Mutu Pendidikan Tinggi; Prof. Ir. Joni Hermana MScES, Ph.D. membawakan Kepemimpinan dan Manajemen Perubahan; dan Rektor Universtias AMIKOM Yogyakarta, Prof. Dr. M. Suyanto, M.M. membawakan materi Berbagi Praktik Baik Membangun Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi.

Kasubbag Layanan Informasi Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan



Source link

Comments are closed.