6 Tokoh Standardisasi Terima Penghargaan dari BSN

6 Tokoh Standardisasi Terima Penghargaan dari BSN

Jakarta, Technology-Indonesia.com – Badan Standardisasi Nasional (BSN) memberikan penghargaan kepada enam Tokoh Standardisasi yang dinilai berperan dalam menyuarakan pentingnya standardisasi dan mengembangkan Standar Nasional Indonesia (SNI). Penghargaan tersebut disampaikan dalam acara Bulan Mutu Nasional 2019 di Semarang, Jawa Tengah, pada Kamis (10/10/2019).

Kepala BSN, Bambang Prasetya mengatakan penerapan standardisasi dan penilaian kesesuaian di Indonesia tidak akan berhasil tanpa dukungan dari semua pemangku kepentingan. “BSN perlu memberikan apresiasi kepada para tokoh yang sangat peduli terhadap kemajuan standardisasi dan penilaian kesesuaian di Indonesia,” kata Bambang dalam keterangan tertulis di Jakarta, pada Minggu (13/10/2019).

Anugerah Tokoh Standardisasi Kategori Aparatur Pemerintah Pusat diberikan kepada Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti serta Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Doni Munardo.

Menteri Susi Pudjiastuti telah memberi dukungan penerapan standardisasi di bidang kelautan dan perikanan melalui Dirjen dan balai; peduli terhadap aspek keamanan, kesehatan, keselamatan dan kelestarian lingkungan hidup di perairan, khususnya terkait sampah plastik; dukungan terhadap eksistensi Komite Teknis Perumusan Standar; serta inisiator skema sertifikasi Indogap untuk sertifikasi produk perikanan. Sementara Doni Munardo dinilai mempunyai andil besar dalam mengembangkan dan memperjuangkan standardisasi dan penilaian kesesuaian melalui kebijakan pemerintah.

Tokoh Standardisasi Kategori Pemrakarsa diberikan kepada Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati karena memberikan kontribusi pada pengembangan standardisasi dan penilaian kesesuaian di bidang meteorologi, klimatologi dan geofisika. Kategori Industriawan diberikan kepada Chairman Garudafood Group, Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto yang mempunyai perhatian besar dalam penerapan SNI di industri dan berhasil mempromosikan produk ber-SNI untuk menembus pasar global.

Sri Sultan Hamengkubuwono menerima Anugerah Tokoh Standardisasi Kategori Aparatur Pemerintah Provinsi karena memiliki andil besar dalam penerapan SNI pasar rakyat, pelayanan publik dan pembinaan penerapan SNI bagi UKM. Untuk Kategori Aparatur Pemerintah Kabupaten/Kota diberikan kepada Tri Rismaharini karena berperan dalam program standardisasi produk usaha mikro dan mendorong penciptaan inovasi produk UKM untuk mencapai daya saing di tingkat global.

Sementara itu untuk Kategori

Read the rest
Mekanisasi Solusi Pertanian Lahan Rawa

Mekanisasi Solusi Pertanian Lahan Rawa

Jakarta, Technology-Indonesia.com – Lahan Rawa berupa lahan pasang surut dan lahan lebak tercatat cukup luas di Kalimatan Selatan dan Sumatera Selatan dengan potensi hampir 500.000 hektare (ha) yang dapat dikembangkan menjadi lahan produktif untuk budidaya padi dan palawija. Selama ini lahan rawa banyak terlantar karena memiliki pH masam (pH rendah antara 3 – 4) dan sedikit tenaga kerja di seputaran rawa untuk menggarap lahan.

Banyak lahan yang sudah dibuka akhirnya dibiarkan tidur lebih dari 12 tahun karena produktivitas rendah sehingga tidak efektif dan efisien. Dengan kata lain secara alami minat petani untuk mengelola lahan sangat rendah.

Pengembangan lahan rawa untuk mendukung kedaulatan pangan membutuhkan intervensi negara. Pada konteks ini peran mekanisasi pertanian berupa penerapan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang sesuai dan tepat menjadi solusi pengelolaan lahan rawa untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja petani. Mekanisasi pertanian juga diharapkan mengatasi kerlangkaan tenaga kerja di lahan rawa.

Sejek Kementerian Pertanian meluncurkan Program SERASI (Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani) pada 2019 ini, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah mendukung dengan memperkenalkan beberapa teknologi pertanian yang sesuai. Sebut saja dengan penggunaan beberapa alsintan di dua lokasi demfarm yaitu di Muara Telang, Banyuasin, Sumatera Selatan, dan di Jejangkit, Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Di Jejangkit misalnya telah dibuka luasan demfarm 65 ha dari lahan yang telah tertidur selama 12 tahun karena berada di daerah banjir Sungai Alalak. Balitbangtan melalui unit-unit kerja dan pelaksana teknis (UK/UPT) yang dikoordinasi Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) melaksanakan kegiatan aplikasi teknologi hasil penelitian dan pengembangan mendukung optimalisasi pertanian lahan rawa.

Berdasarkan kondisi eksisting diperlukan desain tata kelola air irigasi yang menjadi hal utama sebelum penerapan aplikasi teknologi budidaya pertanian Balitbangtan.

Beberapa penerapan teknologi mekanisasi pertanian yang telah diterapkan di demfarm antara lain penggunaan pompa Air; traktor roda 4 dan roda 2 untuk pengolahan tanah dangkal; drone tanam benih

Read the rest
Balitbangtan Demonstrasikan Pertanian Rawa Ramah Lingkungan

Balitbangtan Demonstrasikan Pertanian Rawa Ramah Lingkungan

Jakarta, Technology-Indonesia.com – Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) merupakan salah satu ancaman serius yang dapat mengurangi hasil panen dan bahkan menyebabkan gagal panen. Aplikasi kimiawi yang sering diterapkan petani untuk menangani OPT dapat berdampak negatif pada lingkungan, menurunkan mutu pangan karena cemaran pestisida, dan mengancam kesehatan petani. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) memberikan contoh nyata di Demfarm Jejangkit bagaimana biopestisida berbasis sumberdaya setempat dapat diterapkan di lahan rawa.

Hari Pangan Sedunia (HPS) tahun 2018 di Desa Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan (Kalsel) adalah titik nadir. HPS itu telah berhasil menunjukan ke masyarakat luas bahwa lahan rawa adalah raksasa tidur yang dengan sentuhan teknologi adaftif dan cerdas dapat berkontribusi sebagai sentra pertanian nasional ke depan.

HPS itu telah menunjukkan aneka teknologi yang mampu membangunkan lahan pasang surut dari kondisi mati suri menjadi lahan yang berproduksi. Dengan perbaikan infrastruktur jaringan tata air dan teknologi budidaya, produktivitas padi mampu mencapai 8 ton per hektare (ha), begitu pula dengan komoditas lainnya seperti sayuran, itik, dan ikan.

Sebagai tindaklanjut dari keberhasilan HPS Jejangkit tersebut, mulai tahun 2019 Menteri Pertanian Andi Amran Sulaeman mencanangkan Program SERASI (Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani) yang akan memanfaatkan 500 ribu lahan rawa pasang surut di Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan.

Program SERASI merupakan top kegiatan di Kementan saat ini. Tak tanggung-tanggung, program SERASI mempunyai target menjadikan rawa sebagai lumbung pangan nasional. Bukan sebuah mimpi menjadikan lahan rawa sebagai sentra produksi pangan masa depan karena negara kita mempunyai lahan rawa yang luas.

Berdasarkan data Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) tahun 2018, luas lahan rawa di Indonesia sekitar 33,4 juta ha tersebar di tiga pulau besar, yaitu Sumatera, Kalimantan dan Papua. Sentuhan teknologi pertanian akan mengubah lahan rawa menjadi primadona pemenuhan pangan nasional.

Biopestisida Balingtan

Adalah Balitbangtan yang melahirkan teknologi inovatif untuk meningkatkan produksi pangan dan kualitasnya. Peran yang

Read the rest
Teknologi RAISA Plus di Demfarm Jejangkit, Kalsel

Teknologi RAISA Plus di Demfarm Jejangkit, Kalsel

Jakarta, Technology-Indonesia.com – Kementerian Pertanian (Kementan) telah mencanangkan Program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI) untuk meningkatkan produktivitas dan produksi pertanian lahan pertanian rawa. Program SERASI merupakan perpanjangan dari kegiatan Hari Pangan Sedunia yang dilaksanakan pada 2018 di Desa Jejangkit, Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).

Selain meningkatkan indeks pertanaman (IP) dan produktivitas pertanaman padi, sasaran program ini juga untuk pengembangan usaha (korporasi petani). Saat ini, Kementan sedang fokus menggarap ratusan ribu hektare (ha) lahan rawa yang tersebar di dua provinsi yaitu Kalsel dan Sumatera Selatan (Sumsel). Garapan pada kegiatan SERASI ini masuk pada rencana jangka panjang program Kementan dengan luas pengembangannya adalah 500 ribu hektare, yang menyebar di Provinsi Sumsel seluas 250.000 ha dan Provinsi Kalsel seluas 250.000 ha.

Di wilayah Kalsel, Program SERASI dilaksanakan di Kabupaten Tapin seluas 35.000 ha, Kabupaten Hulu Sungai seluas Utara 20.000 hektar, Kabupaten Hulu Sungai Selatan seluas 30.000 ha, Kabupaten Tanah Laut seluas 30.000 ha, Kabupaten Banjar seluas 35.000 ha, dan Kabupaten Barito Kuala seluas 100.000 ha.

Pada berbagai kesempatan, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Dr. Fadjry Djufry, mengatakan bahwa Balitbangtan terus berupaya mewujudkan swasembada pangan di Indonesia dan meningkatan kesejahteraan petani melalui dukungan teknologi, termasuk teknologi untuk Program SERASI. Upaya ini sesuai dengan program Balitbangtan untuk percepatan hilirisasi teknologi-teknologi Litbang agar berdampak langsung untuk bisa menyukseskan program Kementan. Balitbangtan juga mengembangkan Demfarm Jejangkit sebagai percontohan teknologi litbang untuk SERASI

Penjelasan Ir. Hendri Sosiawan, CESA, selaku penanggung jawab teknis lapang demfarm cukup memberikan gambaran kontribusi demfarm sebagai show window teknologi. Demfarm SERASI yang dilakukan di Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, menyediakan semua teknologi teknologi ungggulan Balitbangtan untuk pengelolaan lahan rawa sebagai usaha pertanian produktif dan menguntungkan. Hal ini cukup beralasan karena tanpa penerapan teknologi, produktivitas yang dihasilkan tidak maksimal dan daya saing juga lemah.

Teknologi RAISA

Salah satu paket teknologi yang ditunjukan

Read the rest
Balitbangtan Contohkan Tata Kelola Air Cerdas di Demfarm Jejangkit, Kalsel

Balitbangtan Contohkan Tata Kelola Air Cerdas di Demfarm Jejangkit, Kalsel

Jakarta, Technology-Indonesia.com – Tata kelola sumber daya air merupakan kunci utama keberhasilan optimalisasi pemanfaatan lahan rawa untuk usaha pertanian berproduksi tinggi. Jika tidak dikelola dengan cerdas dan bijak, air yang diperlukan tanaman pada lahan rawa tipe pasang surut (rawa pasut) dapat berubah menjadi faktor utama yang membatasi produksi dan produktivitas pertanian. Sesuai sifat dinamika airnya, pada lahan rawa pasut memungkinkan terjadinya banjir pada saat pasang (tipologi A dan B) dan kekeringan pada saat surut (tipologi B, C, dan D) yang dapat mengakibatkan kegagalan panen.

Lahan rawa pasut merupakan lahan rawa yang perlu penanganan tata kelola air khusus karena tanahnya tergolong sulfat masam. Tata kelola air yang buruk pada lahan ini dapat menyebabkan penurunan kualitas air yang ditunjukan oleh tingkat kemasaman air tanah yang tinggi di lahan pertanian masam sulfat.

Tata kelola air merupakan kegiatan utama yang wajib dilaksanakan dan dimonitor khusus agar lahan rawa dapat dimanfaatkan lebih optimal, produksi pertanian bertambah, dan kesejahteraan petani meningkat.

Seiring dengan implementasi program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI), pada tahun 2019 Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mengembangkan demfarm di dua lokasi lahan rawa yaitu Muara Telang, Banyuasin, Sumatera Selatan, dan Jejangkit, Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Di Demfarm Jejangkit, Balitbangtan menunjukan contoh teknologi optimalisasi pertanian lahan rawa pasut pada lahan pertanian seluas kurang lebih 65 hektare. Diinformasikan bahwa sebelumnya, wilayah Jejangkit merupakan lahan tidur yang sudah lebih dari 12 tahun tidak diusahakan untuk pertanian karena merupakan daerah banjir sungai Alalak.

Berdasarkan kondisi eksisting, desain tata kelola air irigasi merupakan hal utama yang harus dilakukan sebelum penerapan aplikasi teknologi budidaya pertanian Balitbangtan.

Teknologi optimalisasi tata kelola sumber daya air pasut demfarm Jejangkit meliputi teknologi desain ulang sistem irigasi dengan penerapan sistem irigasi sisir, teknologi desain saluran tersier baru (total 9 saluran dengan dimensi rata-rata 280 x 1,2 x 1,5 meter), teknologi desain tanggul saluran eksisting,

Read the rest