Balitbangtan Contohkan Tata Kelola Air Cerdas di Demfarm Jejangkit, Kalsel

Balitbangtan Contohkan Tata Kelola Air Cerdas di Demfarm Jejangkit, Kalsel


Jakarta, Technology-Indonesia.com – Tata kelola sumber daya air merupakan kunci utama keberhasilan optimalisasi pemanfaatan lahan rawa untuk usaha pertanian berproduksi tinggi. Jika tidak dikelola dengan cerdas dan bijak, air yang diperlukan tanaman pada lahan rawa tipe pasang surut (rawa pasut) dapat berubah menjadi faktor utama yang membatasi produksi dan produktivitas pertanian. Sesuai sifat dinamika airnya, pada lahan rawa pasut memungkinkan terjadinya banjir pada saat pasang (tipologi A dan B) dan kekeringan pada saat surut (tipologi B, C, dan D) yang dapat mengakibatkan kegagalan panen.

Lahan rawa pasut merupakan lahan rawa yang perlu penanganan tata kelola air khusus karena tanahnya tergolong sulfat masam. Tata kelola air yang buruk pada lahan ini dapat menyebabkan penurunan kualitas air yang ditunjukan oleh tingkat kemasaman air tanah yang tinggi di lahan pertanian masam sulfat.

Tata kelola air merupakan kegiatan utama yang wajib dilaksanakan dan dimonitor khusus agar lahan rawa dapat dimanfaatkan lebih optimal, produksi pertanian bertambah, dan kesejahteraan petani meningkat.

Seiring dengan implementasi program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI), pada tahun 2019 Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mengembangkan demfarm di dua lokasi lahan rawa yaitu Muara Telang, Banyuasin, Sumatera Selatan, dan Jejangkit, Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Di Demfarm Jejangkit, Balitbangtan menunjukan contoh teknologi optimalisasi pertanian lahan rawa pasut pada lahan pertanian seluas kurang lebih 65 hektare. Diinformasikan bahwa sebelumnya, wilayah Jejangkit merupakan lahan tidur yang sudah lebih dari 12 tahun tidak diusahakan untuk pertanian karena merupakan daerah banjir sungai Alalak.

Berdasarkan kondisi eksisting, desain tata kelola air irigasi merupakan hal utama yang harus dilakukan sebelum penerapan aplikasi teknologi budidaya pertanian Balitbangtan.

Teknologi optimalisasi tata kelola sumber daya air pasut demfarm Jejangkit meliputi teknologi desain ulang sistem irigasi dengan penerapan sistem irigasi sisir, teknologi desain saluran tersier baru (total 9 saluran dengan dimensi rata-rata 280 x 1,2 x 1,5 meter), teknologi desain tanggul saluran eksisting, dan teknologi design pintu-pintu tabat sistem elbow PVC (TASEL) pada tanggul saluran sekunder dan tersier. Keempat teknologi rancangbangun yang tergolong paket teknologi tatakeloa air cerdas lahan rawa dapat dilihat di Demfarm Jejangkit.

Manfaat dari tata kelola dengan rancangbangun di lahan eksisting ini yaitu sistem sisir yang dilengkapi dengan pintu TASEL dapat memperlancar distribusi keluar masuknya air irigasi dari saluran ke lahan (tata kelola air mikro). Dampak dari tata kelola ini adalah ketersediaan air untuk tanaman lebih terjaga sebagai media pertumbuhan tanaman, tercucinya zat-zat beracun (Fe2O, pirit) yang terkandung di tanah sulfat masam, terbentuknya tempat penyimpanan air irigasi (long-storage) untuk musim kering melalui pompanisasi, dan terhindarinya banjir banjir saat pasang di musim penghujan.

Monitoring tata air juga dicontohkan melalui pengamatan hidrodinamika lahan rawa pasang surut demfarm Jejangkit. Contoh-contoh instrumen perekam data tinggi muka air (kuantitas air) di lahan, saluran, dan sungai Alalak; dan perekam data pH (kualitas air) di saluran dapat diamati di areal demfarm dan dapat diterapkan juga di wilayah lain.

Data hidrodinamika kuantitas dan kualitas air musiman merupakan data primer optimalisasi jadwal tanam mendukung program peningkatan Indeks Pertanaman (IP) lahan rawa pasang surut. Data hidrodinamika pasut harian dapat digunakan sebagai dasar penjadwalan manajemen distribusi air irigasi ke lahan pertanian melalui sistem buka-tutup pintu TASEL.

Contoh-contoh desain dan instrumen tata kelola air cerdas telah ditunjukan di demfarm untuk mengeliminasi faktor pembatas kegiatan pertanian lahan rawa pasut mendukung aplikasi teknologi budidaya pertanian. Para pemangku kepentingan lahan rawa pasut baik peneliti, akademisi, praktisi, petani sangat disarankan untuk mengunjungi lokasi.

Tata kelola air cerdas ini mungkin belum yang terbaik, namun dapat diterapkan di wilayah lain sebagai jawaban atas tantangan optilmalisasi lahan rawa pasut, peningkatan produksi, dan peningkatan kesejahteraan. (Setyono Hadi Adi/Yiyi Sulaeman)



Source link

Comments are closed.