Balitbangtan Demonstrasikan Pertanian Rawa Ramah Lingkungan

Balitbangtan Demonstrasikan Pertanian Rawa Ramah Lingkungan

Jakarta, Technology-Indonesia.com – Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) merupakan salah satu ancaman serius yang dapat mengurangi hasil panen dan bahkan menyebabkan gagal panen. Aplikasi kimiawi yang sering diterapkan petani untuk menangani OPT dapat berdampak negatif pada lingkungan, menurunkan mutu pangan karena cemaran pestisida, dan mengancam kesehatan petani. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) memberikan contoh nyata di Demfarm Jejangkit bagaimana biopestisida berbasis sumberdaya setempat dapat diterapkan di lahan rawa.

Hari Pangan Sedunia (HPS) tahun 2018 di Desa Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan (Kalsel) adalah titik nadir. HPS itu telah berhasil menunjukan ke masyarakat luas bahwa lahan rawa adalah raksasa tidur yang dengan sentuhan teknologi adaftif dan cerdas dapat berkontribusi sebagai sentra pertanian nasional ke depan.

HPS itu telah menunjukkan aneka teknologi yang mampu membangunkan lahan pasang surut dari kondisi mati suri menjadi lahan yang berproduksi. Dengan perbaikan infrastruktur jaringan tata air dan teknologi budidaya, produktivitas padi mampu mencapai 8 ton per hektare (ha), begitu pula dengan komoditas lainnya seperti sayuran, itik, dan ikan.

Sebagai tindaklanjut dari keberhasilan HPS Jejangkit tersebut, mulai tahun 2019 Menteri Pertanian Andi Amran Sulaeman mencanangkan Program SERASI (Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani) yang akan memanfaatkan 500 ribu lahan rawa pasang surut di Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan.

Program SERASI merupakan top kegiatan di Kementan saat ini. Tak tanggung-tanggung, program SERASI mempunyai target menjadikan rawa sebagai lumbung pangan nasional. Bukan sebuah mimpi menjadikan lahan rawa sebagai sentra produksi pangan masa depan karena negara kita mempunyai lahan rawa yang luas.

Berdasarkan data Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) tahun 2018, luas lahan rawa di Indonesia sekitar 33,4 juta ha tersebar di tiga pulau besar, yaitu Sumatera, Kalimantan dan Papua. Sentuhan teknologi pertanian akan mengubah lahan rawa menjadi primadona pemenuhan pangan nasional.

Biopestisida Balingtan

Adalah Balitbangtan yang melahirkan teknologi inovatif untuk meningkatkan produksi pangan dan kualitasnya. Peran yang sangat penting diemban Balitbangtan untuk membangunkan lahan rawa, menggerakkannya sehingga menjadi lahan yang produktif dan menghasilkan.

Berbagai teknologi diaplikasikan mulai dari paket budidaya tanaman padi dengan menggunakan varietas unggul dan adapatif terhadap lingkungan rawa, penggunaan alat dan mesin pertanian modern berbasis 4.0 hingga integrasi tanaman padi dengan ternak itik dan ikan. Tak kalah pentingnya adalah penanganan pasca panen dan manajemen korporasi yang juga menjadi kunci keberlanjutan Program SERASI.

Dalam budidaya tanaman, penggunaan sarana produksi pestisida kimiawi tidak dapat dihindari selain mudah mendapatkannya juga cepat menunjukkan hasil. Seorang petani penggarap di lahan rawa menuturkan bahwa selama ini dia menggunakan pestisida kimiawi untuk mengendalikan OPT.

Penggunaan pestisida kimiawi memang nyata memberikan kontribusi terhadap stabilitas hasil tanaman pertanian termasuk tanaman pangan dan hortikultura. Namun penggunaan pestisida kimiawi yang tidak tepat dan cenderung berlebihan akan berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Sebut saja resurjensi hama tertentu, terbunuhnya organisme menguntungkan non target, kontaminasi dan cemaran residu dalam tanah, air, dan produk pertanian.

Hal ini diperparah dengan hampir sebagian besar petani kita belum mematuhi tata cara penyemprotan pestisida kimiawi yang benar. Pestisida oplosan sering dijumpai dalam praktek pengendalian dan pemberantasan OPT.

Pada Program SERASI, keamanan pangan sangat diperhatikan. Salah satunya dengan menyediakan teknologi inovatif pengendalian OPT berbahan baku alami. Bahan-bahan alami potensial menggantikan pestisida kimiawi tersedia melimpah dan mudah diperoleh di sekitar lingkungan kegiatan pertanian.

Balitbangtan mengembangkan pestisida nabati berbahan sumberdaya lokal (daun mimba, kunyit, urin sapi dan asap cair) yang diperkaya mikroba atau lazim disebut sebagai biopestisida Balingtan. Biopestisida tersebut mempunyai keunggulan antara lain menambah kekebalan tanaman terhadap serangan OPT, meningkatkan kesuburan lahan, mengurangi pencemaran residu pestisida dan meningkatkan produksi tanaman. Pemberian pestisida nabati secara terus menerus tidak meninggalkan residu dalam tanah dan produk tanaman serta relatif mudah terdegradasi.

Kepala Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan), Ir Mas Teddy Sutriadi, M.Si menjelaskan, biopestisida telah banyak digunakan oleh kelompok tani di Kabupaten Pati dan sekitarnya. Kelompok tani dampingan Balingtan menghasilkan 10,15 ton/ha gabah dengan aplikasi biopestisida, petani yang lainnya (pestisida kimia-red) hanya 7,76 ton/ha. Biopestisida Balingtan juga digunakan untuk kegiatan Blok Program di Lampung dan Grobogan. Hasilnya sangat memuaskan, di Margototo, Lampung hasil jagung mencapai 21 ton/ha tongkol kering. Sementara di Grobogan, hasil padi mencapai 6,92 ton/ha.

Pada Program SERASI, Balitbangtan menggunakan biopestisida Balingtan sebagai salah satu pengendalian OPT melalui salah satu kegiatan superimposed-nya. Pada luasan lebih dari 2.000 m2 biopestisida diaplikasikan dan hasilnya mampu mengurangi serangan OPT.

Sri Wahyuni, peneliti Balitbangtan melaporkan bahwa penggunaan biopestisida mampu menurunkan 50% serangan OPT jika dibandingkan dengan penggunaan pestisida kimiawi. Pada biopestisida, kandungan azadirachtin pada ekstrak mimba yang berfungsi sebagai penolak makan, repelen, toksikan dan pengganggu pertumbuhan OPT.

Selain itu, penggunaan daun galam sebagai bahan baku biopestisida di lahan rawa juga memperlihatkan hasil yang cukup memuaskan. Serangan OPT turun 20% dengan aplikasi biopestisida galam. Ekstrak galam efektif membunuh ulat Spodptera exigua. Karena punya sifat racun perut, ulat akan mati dalam 3 hari setelah terkena ekstrak galam.
Travel Malang

Produk pangan yang berkualitas menjadi salah satu daya tarik konsumen terlebih dengan terbukanya persaingan global. Teknologi pertanian inovatif ramah lingkungan sangat dibutuhkan dan Balitbangtan telah menyediakannya. Inilah SERASI. (Rina Kartikawati/Yiyi Sulaeman)

Source link

Comments are closed.