Resmikan Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Padjadjaran, Menristekdikti Sebut Indikator KST yang Sukses Dilihat dari Inovasinya

Resmikan Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Padjadjaran, Menristekdikti Sebut Indikator KST yang Sukses Dilihat dari Inovasinya


Siaran Pers Kemenristekdikti
Nomor : 192 /SP/HM/BKKP/IX/2019

Sumedang – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir didampingi Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor Unpad Rina Indiastuti meresmikan Gedung dan Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Padjadjaran. Peresmian dilakukan dengan penandatanganan prasasti oleh Menteri Nasir di Auditorium Gedung KST Padjadjaran, Kampus Unpad Jatinangor, Kabupaten Sumedang pada Selasa (24/9).

Mohamad Nasir dalam sambutannya berharap KST Padjadjaran dapat maju dan menjadi pionir KST ‘mature’ yang ada di Indonesia. KST Padjadjaran pun diharapkan dapat mewadahi para innovators UNPAD dan menjadi fasilitas penting bagi mereka untuk menghasilkan produk produk inovasi terbaik bagi masyarakat Indonesia dan dunia.

“Kalau ini menjadi KST UNPAD ini menjadi ‘mature’ (dewasa) , maka ke depan akan menghasilkan ‘revenue’ untuk Universitas Padjadjaran,” ujar Nasir.

Menurut Nasir, untuk dapat maju ekosistem KST harus dibangun dengan baik. Salah satu ekosistem inovasi yang perlu dibangun adalah jaringan (networking) yang dihasilkan oleh inventor dan inovator. Inventor dan inovator adalah para pelaku inovasi yang memiliki multi talenta skill dalam proses produksi produk produk inovasi.

“Tidak ada artinya suatu Kawasan Sains dan Teknologi (KST) kalau tidak ada inventor dan inovator,” ujar Menristekdikti.

Tahapan selanjutnya dari pembangunan KST adalah hilirisasi dan komersialisasi hasil riset. Menurut Nasir, inovasi dapat dikomersialkan jika ada tempat inkubasi. Dengan demikian, bisnis proses produk-produk inovasi dapat berjalan lancar. Kolaborasi antara Akademisi (termasuk Peneliti), Pebisnis, Pemerintah, Komunitas dan Media (Penta Helix ABGCM.(Academician Business Government Community Media concept) pun penting dilakukan.

Menteri Nasir juga menambahkan Indikator KST yang sukses yaitu wadah inkubasi untuk menggulirkan inovasi-inovasi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“Para inkubator bisa menghasilkan inovasi atau tidak, makin banyak atau tidak tenant yang memanfaatkan KST untuk menghasilkan Inovasi menentukan sukses atau tidaknya sebuah KST” ungkap Nasir.

Berikutnya, setelah bisnis memiliki nilai tambah bagi KST, perlu dibangun “University Holding Insitution/Company”.

“Mengholdingkan inovasi-inovasi, mengholdingkan tenant-tenant tersebut menjadi ‘revenue generating components’, bagi suatu universitas. Apalagi Universitas Padjadjaran sudah menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH). Ini menjadi sangat penting,” ujar Nasir.

Nasir berharap, KST tidak hanya menjual produk inovasi. KST harus dapat memfasilitasi proses riset/invensi menjadi inovasi. Oleh karena itu, mahasiswa/i, terutama dari program doktoral perlu diikutsertakan. Laboratorium pun harus diarahkan untuk menghasilkan publikasi dan inovasi.

Nasir juga mengapresiasi lompatan inovasi yang dilakukan Universitas Padjadjaran dalam beberapa tahun terakhir. Gedung KST Padjadjaran diharapkan dapat menjadi stimulus untuk menjadi KST yang bisa menghasilkan manfaat yang lebih baik lagi bagi Unpad.

“Saya melihat tadi produk produk inovasi-inovasinya. Saya cukup bangga ternyata lompatan yang dilakukan Universitas Padjadjaran. Luar biasa dalam pencapaian inovasinya,” ujarnya

KST Padjajaran Mengusung Green Innovation

Sementara itu Pelaksana Tugas (Plt) Rektor Unpad Rina Indiastuti mengharapkan KST Padjadjaran dapat bermanfaat bagi pembangunan masyarakat Jawa Barat dan Indonesia. Rina mengungkapkan Gedung KST Padjadjaran tersebut dibangun atas dukungan dari Kemenristekdikti.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Menteri atas fasilitas pembangunan Gedung KST Padjadjaran beserta pembangunan kelembagaannya,” ucap Rina.

Rina menjelaskan bahwa keuntungan kompetitif dari KST Padjadjaran adalah mengusung nilai “green innovation” dengan fokus ‘advance material’ untuk agroteknologi. Nilai ini sejalan dengan Pola Ilmiah Pokok Unpad yaitu “Bina Mulia Hukum dan Lingkungan Hidup dalam Pembangunan Nasional”.

“Kami sangat mengharapkan kegiatan pembangunan KST Padjadjaran yang sudah diberikan fasilitas dan pendanaan melalui Kemenristekdikti itu bisa menjadikan KST lebih mandiri dan lebih berdampak pada pembangunan masyarakat Jawa Barat dan nasional,” harap Rina.

Lebih lanjut Rina mengatakan bahwa KST Padjadjaran diharapkan berfungsi sebagai pusat percontohan dan pusat alih teknologi. Gedung ini akan dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, terutama terkait tiga fungsi utama KST yaitu inkubasi, layanan alih teknologi, serta layanan teknologi dan kepakaran.

Selain itu, ditandatangani juga Perjanjian Kerja Sama antara Unpad dengan Kabupaten Sumedang, PT Digital Truk, dan BRI Microfinance tentang smart farming berbasis pemanfaatan riset untuk masyarakat di kabupaten Sumedang

Turut hadir dalam acara tersebut Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti Muhammad Dimyati, Kepala Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik Kemenristekdikti Nada Marsudi, Plt. Direktur Kawasan sains dan Teknologi dan Lembaga Penunjang lainnya Kemenristekdikti Kemal Prihatman, Wakil Rektor Unpad Bidang Riset, Pengabdian Pada Masyarakat, Kerja Sama, dan Korporasi Akademik Keri Lestari, Dir. Operasional BRI Microfinance Center Agus Rachmadi, Lead Product Manager PT. Ritase Digital Truck Indonesia Ginanjar Fathul Muttaqin, Sekda Kab. Sumedang Herman Suryatman, Gubernur diwakili Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII Otin Martini, Perwakilan bank – bank mitra Unpad , dan Jajaran Warek, Dekan, Direktur, Sesdit di lingkungan Unpad serta tamu lainnya.

Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik dan
Humas Universitas Padjadjaran



Source link

Comments are closed.