Santri Tebuireng Diajak Menristekdikti Terus Pelajari Teknologi

Santri Tebuireng Diajak Menristekdikti Terus Pelajari Teknologi


Siaran Pers Kemenristekdikti
Nomor: 157/SP/HM/BKKP/VIII/2019

JOMBANG – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengajak santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Tebuireng untuk terus mampu membaca data dan teknologi agar mengerti sisi positif dan negatif teknologi. Dalam kesempatan yang sama, Menristekdikti juga mengajak santri dan seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk menghindari diskriminasi terhadap sesama warga negara Indonesia.

“Literasi data harus kita bangun terus. Tidak cukup literasi data, juga pada literasi teknologi dimana ini menyangkut bagaimana membaca data dengan baik. Kalau kita punya data, punya teknologi, bahasa agamanya man ‘arafa lughata qaumin salima min makrihim, barangsiapa yang menguasai bahasa orang lain, maka dia akan selamat (dari sisi negatif teknologi) ,” ungkap Menteri Nasir saat Seminar Nasional Harlah 120 Tahun Pesantren Tebuireng Memadukan Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang pada Sabtu (24/8).

Menristekdikti melihat teknologi saat ini memiliki sisi positif dan sisi negatif sehingga para santri perlu untuk terus mempelajari hal baru dan yang mungkin tidak diajarkan di pesantren dan perguruan tinggi, terutama perkembangan teknologi.

“Oleh karena itu kita belajar tidak hanya berhenti pada mahasiswa, tapi harus belajar mulai lahir sampai mati, utlubul `ilma minal mahdi ilal lahdi, long life education, long life learning,” ajak Menristekdikti.

Di hadapan para santri dan mahasiswa Universitas Hasyim Asyari (Unhasy), Menteri Nasir mengingatkan untuk tidak boleh memperlakukan sesama mahasiswa secara berbeda karena perbedaan suku dan agama.

Menristekdikti akan memastikan tidak ada diskriminasi di perguruan tinggi bagi siapapun, termasuk mahasiswa Papua. Menristekdikti akan memberi sanksi perguruan tinggi yang melakukan atau membiarkan diskriminasi terjadi.

“Saya sampaikan kepada rektor di seluruh Indonesia, khususnya perguruan tinggi negeri, rektor tidak boleh melakukan diskriminasi pada semua rakyat Indonesia yang sedang mengikuti pendidikan di perguruan tinggi tersebut, apakah dari Papua atau daerah lain, apakah agamanya berbeda. Saya sampaikan kalau rektor perguruan tinggi melakukan diskriminasi, rektornya akan saya berikan sanksi tidak main-main. Sanksinya bisa sanksi berat, bisa pemberhentian,” ungkap Menristekdikti.

Dalam kesempatan ini, Menristekdikti memberikan hadiah laptop kepada masing-masing santriwan dan santriwati dengan nilai tertinggi di angkatannya dan juga kepada mahasiswa dan mahasiswi dengan IPK tertinggi yang hadir pada kesempatan tersebut.

Seminar ini turut dihadiri oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng sekaligus Rektor Universitas Hasyim Asy’ari Dr (HC) KH. Salahuddin Wahid, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. H. Dadang Kahmad, Wakil Ketua Pengurus Besar Al Khairaat Palu Dr. Al-Habib Sholeh bin Muhammad Al Jufri, Lc., Ketua Bidang Pendidikan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Prof. Dr. Ir. KH. Muhammad Nuh, Direktur Kemahasiswaan Didin Wahidin, para kiai dan santri Pondok Pesantren Tebuireng, dan para dosen dan mahasiswa Universitas Hasyim Asyari (Unhasy).

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kemenristekdikti



Source link

Comments are closed.