Iradiator Dr. Mirzan T Razak Dapat Dimanfaatkan untuk Penelitian Pakaian Anti Air

Iradiator Dr. Mirzan T Razak Dapat Dimanfaatkan untuk Penelitian Pakaian Anti Air


Jogjakarta – Laboratorium Iradiator Dr. Mirzan T Razak yang berlokasi di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) BATAN Yogyakarta difungsikan untuk penelitian, praktikum mahasiswa, dan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu penelitian yang tengah dikembangkan saat ini adalah material hidrofobik, yakni material anti air yang dapat diaplikasikan untuk pakaian anti air ataupun pembungkus makanan.

“Yang saat ini diteliti itu adalah material hidrofobik, jadi bahan-bahan tertentu yang sebelum dimasukkan ke Iradiator dia belum anti air, namun setelah diradiasi dia jadi anti air. Bahan hidrofobik ini kemudian bisa dicampurkan dengan kainnya ketika difabrikasi,” jelas Kepala Laboratorium Iradiator, Sugili Putra saat ditemui di Laboratorium Iradiator, Jumat (30/08).

Sementara untuk pengaplikasian pembungkus makanan, lanjut Sugili, diperlukan material yang berbahan hidrofobik agar pembungkus tidak mudah bocor atau rembes. Pembungkusnya bisa plastik atau kertas yang mudah terurai (biodegradable).

Iradiator buatan Hongaria ini telah diresmikan pada tanggal 19 Desember 2017. Iradiator yang masuk dalam kategori 1 ini memang difungsikan untuk penelitian, praktikum dan pengabdian kepada masyarakat. Ditargetkan pada tahun 2020, Iradiator akan digunakan untuk praktikum dan pelatihan mahasiswa untuk memperoleh Surat Izin Bekerja (SIB) sebagai Petugas Iradiator.

Sugili menerangkan, ketika masuk ke ruang Iradiator tidak harus mengenakan pakaian khusus karena  Iradiator kategori 1 tidak ada kemungkinan kontaminasi. “Sumber radioaktifnya ada di dalam pengungkung, tersimpan secara statis, terus targetnya (materialnya) saja nanti yang dimasukkan, diturunkan, karena sumbernya statis disitu. Ketika tidak digunakan pun juga itu (Iradiator) sudah aman, maka tidak masalah ketika kita masuk baik sedang digunakan atau tidak digunakan. Keamanannya sangat tinggi sehingga kita berada di sekitarnya pun tidak masalah,” urai Sugili.

Sumber radiasi yang digunakan adalah cobalt – 60 dengan aktivitas radiasi ketika dibeli pada tanggal 6 Oktober  2017 adalah 445,85 terabecqurel  atau setara dengan 12 kilocurie. Penelitian dan praktikum tidak hanya terbatas pada mahasiswa STTN saja. Salah satunya digunakan oleh Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga dalam penelitian tanaman yang bisa mengobati sakit malaria ataupun kanker.

“Jadi berbeda dengan Iradiator Gamma yang dikelola Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN, yang memang fokus radiasi tanaman untuk pangan, kalau disini meradiasi tanaman untuk banyak hal, tidak hanya itu,” pungkas Sugili 

sumber : http://www.batan.go.id/index.php/id/kedeputian/sttn/5839-iradiator-dr-mirzan-t-razak-digunakan-untuk-penelitian-pakaian-anti-air



Source link

Comments are closed.